Disampaikan kembali oleh R. Agung
(Kepala SMPN 2 Sukahaji Kabupaten Majalengka)
(Kepala SMPN 2 Sukahaji Kabupaten Majalengka)
Salah Pembicara pada kegiatan MGMP-TIK Kab. Majalengka
Kajian
Kritis:
APA SALAHNYA LKS UNTUK SD?
(Suatu
Kajian Kritis Terhadap Artikel Berjudul: Awas Bahaya LKS bagi Siswa SD!,
Tulisan: Muh. Muslih)
Oleh: Sumardyono,
M.Pd.
Pendahuluan
Tulisan
yang berjudul Awas Bahaya LKS bagi Siswa SD! Dapat diakses di internet pada
alamat http//bumisegoro.wordpress.com/2009/04/29/awas-bahaya-lks-bagisiswa-sd,
diaksestanggal 8 April 2010).
Tulisan
ini merupakan karya ilmiah populer yang ditulis oleh Muh Muslih yang juga
pemilik blok (situs internet) seorang mahasiswa S2 UPI Bandung dan mengaku
sebagai peneliti pada Maarif Center.
Tema
yang diangkat Sdr. Muskih cukup relevan dan yang penting untuk dipapar dan
dikaji saat ini. Hanya saja judul artikel menggunakan tanda baca seru (!) seakan-akan merupakan masalah krusial dan
darurat. Artikel Sdr. Muslih sepertinya ditujukan untuk semua kalangan yang
memiliki perhatian terhadap pendidikan SD, khususnya kepada orang tua dan guru SD. Walaupun
demikian, melalui “Penerbitan” pada media internet maka setiap orang mendapat
kesempatan untuk membaca dan menanggapi (langsung) terhadap artikel tersebut.
Jelas dengan pemilihan judul artikel,
Sdr. Muslih bertujuan memberikan semacam Warning
kepada para orang tua dan guru tentang kemanfaatan LKS di SD. Pembahasan dalam
artikel telah menyuguhkan beberapa alasan berupa fakta, dugaan, dan argumentasi
logis mengapa keberadaan LKS ini perlu diwaspadai. Menurut Sdr. Muslih, LKS
saat ini hanya memberi beban yang berlebihan kepada siswa, sehingga bukannya
menambah pemahaman konsep tetapi malah
dapat mematikan potensi siswa.
Sebagai
pembahasan yang mengangkat isu penting dan relevan dengan perkembangan
pendidikan, maka artikel ini memiliki arti penting dan perlu dibaca. Namun
demikian, fakta, data, dan argumentasi yang disuguhkan belumlah cukup dan
sesungguhnya dapat dipertajam sehingga dapat objektif. Selain itu pemilihan
kurang selektif dan terdeskripsi dengan benar.
Rangkuman
Dalam
memaparkan gagasannya, Sdr. Muslih mengorganisasi isi artikelnya ke dalam
beberapa bagian, yaitu: Pendahuluan dalam bentuk narasi tanpa judul, Peran
pekerjaan Rumah bagi Siswa, LKS bagi Anak SD, dan
LKS SD Bisa
Mematikan Potensi Anak. Pada bagian Pendahuluan, Sdr. Muslih menceritakan
sebuah kisah nyata tentang banyaknya PR (Pekrjaan Rumah) pada LKS (Lembar Kerja
Siswa) yang dibebankan pada seorang siswa SD, dalam sebuah dialog antara sang
anakdengan ayahnya. Pada subjudul peran pekerjaan rumah bagi siswa, penulis
artikel menyuguhkan tujuan diadakannya PR yaitu untuk melatih dan mereview
kemampuan secara mandiri di rumah. Tetapi, saat usia SD yang termasuk tahap
operasional konkrit menurut Pieget, anak SD sebaiknya tidak diberikan PR yang
terlalu banyak karena pengalaman mereka masih minim. Pada sub judul LKS anak SD,
Sdr. Muslih mengemukakan mengapa LKS dipandang sangat berbahaya bagi
perkembangan berpikir siswa dengan 3 alasan yaitu; bahwa LKS hanya melatih
siswa menjawab soal sehingga tidak efektif tanpa pemahaman konsep, penggunaan
LKS sebagai pengganti buku, dan mutu soal dalam LKS yang dianggap rendah.
Pada
sun judul terakhir, LKS SD bisa mematikan potensi anak, penulis artikel
menyatakan bahwa LKS perlu dibuat dengan kualitas standar dan digunakan secara
tepat. Hal yang paling penting adalah pemahaman konsep secara utuh, sementara
soal LKS sebaiknya proposional dengan kebutuhan siswa dan harusnya dibuat
sendiri oleh guru.
Kritik
Deskripsi
kisah “nyata” pada bagian pendahuluan seharusnya tidak perlu, apalagi dengan
menggarisbawahi itu adalah sebuah kisah nyata. Bagaimana orang dapat diyakinkan
bahwa itu sebuah kisah nyata? Akan lebih baik apabila penulis cukup memberi
gambaran tentang deskripsi mengenai LKS yang saat ini beredar secara luas. Akan
lebih baik lagi, bila didukung dengan data-data yang valid berdasarkan sampel,
survey atau hasil penelitian. Pada sub judul peran pekerjaan rumah bagi siswa,
penulis hanya mengulas sangat singkat
mengenai peran PR, sebagian besar paragraf lebih membahas mengenai “bahaya PR”
dari sudut pandang teori Pieget.
Kelihatan bahwa Sdr. Sdr. Muslih begitu fokus pada penilaian terhadap PR atau LKS tanpa memperhatikan sub tema yang
akan dibahas. Seharusnya dengan sub judul
tersebut, Sdr. Muslih lebih mengulas mengenai apa peran PR sesungguhnya
bagi siswa. Selai itu perlu didefinisikan apa yang dimaksud dengan PR. Pada sub judul
LKS bagi anak SD, penulis artikel lebih banyak mengemukakan tenatng mengapa LKS
berbahaya bagi siswa. Hampir semua paragraf membahas mengenai hal tersebut,
sehingga sub judulnya adalah”Mengapa LKS Berbahaya bagi Siswa” atau “Mengapa
LKS saat ini berbahaya bagi siswa”. Sekali
lagi, tampaknya Sdr. Muslih kurang peka dengan pemilihan sub judul.
Pada
sub judul “LKS SD Bisa Mematikan Potensi Anak” lagi-lagi penulis tidak
memberikan deskripsi yang jelas. LKS yang bagaimana yang mematikan anak,
lalu potensi yang mana? Penulis artikel
menyatakan “Penulis tidak apriori akan keberadaan buku LKS, terutama bila
memang memenuhi kualitas standar”. Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana
kualitas standar yang dimaksud. Terkesan bahwa penulis artikel agak antipati
terhadap keberadaan LKS terutama LKS yang diterbitkan.
Dalam
keseluruhan tulisannya, penulis artikel terkesan tidak cermat dalam menggunakan
istilah LKS dan PR. Seharusnya penulis artikel menyampaikan pengertian
sesungguhnya dari LKS dan PR. Selanjutnya mengapa LKS yang sekarang banyak
beredar berbahaya. Apakah kebanyakan “LKS” yang banyak beredar telah memenuhi
standar dan apakah LKS telah dimanfaatkan dengan semestinya.
Van
de Walle, John A. Dalam Elementry School
Mathematics: Teaching Developmentally (1990, H.368) menegaskan bahwa
“Secara tradisional PR (homework)
dimaksudkan untuk menyediakan latihan dan pekerjaan tambahan pada prosedur yang
telah dibelajarkan hari itu”. Selain peran tersebut, PR juga merupakan cara efektif dalam
mengkomunikasikan pentingnya pemahaman konsep kepada siswa dan orang tua siswa.
Selain itu, PR berperan sebagai cara
guru untuk membangun percaya diri siswa dalam memahami konsep atau menyelesaikan
masalah. (Van de Walle, 1990: 387). Inilah beberapa peran PR bagi siswa.
Bagaimana dengan LKS? LKS yang merupakan singkatan Lembar Kerja Siswa atau
Lembar Kegiatan Siswa merupakan lembaran atau kumpulan lembaran yang memuat
tugas baik berupa pertanyaan konseptual meupun prosedural sekaligus bagian kosong yang seharusnya diisi siswa dalam
menjawab tugas atau masalah. Dalam tradisi berbahasa Inggris, LKS disebut
dengan Studen Worksheet). LKS dapat
dipergunakan baik di dalam kelas , maupun di luar kelas sebagai PR
Berikut ini beberapa pengertian LKS.
“a sheet of paper containing
exercises to be completed by a pupil or student” (lembaran kertas yang memuat
latihan atau soal untuk dilengkapi penyelesaiannya oleh siswa) (Collins
Discovery Encyclopedia)
“A sheet of paper on which work records are kept” (lembaran kertas di mana rekaman pekerjaan disimpan) (Dictionary
of the English Language)
“Lembar kegiatan siswa (student
worksheet ) adalah lembaran‐lembaran berisi
tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kegiatan berisi petunjuk,
langkah‐langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tugas‐tugas yang diberikan
kepada siswa dapat berupa teori dan atau praktik“ (BSNP).
Masih menurut BSNP, Struktur LKS
secara umum adalah sebagai berikut:
- Judul, mata pelajaran, semester,
tempat
- Petunjuk belajar
- Kompetensi yang akan dicapai
- Indikator
- Informasi pendukung
- Tugas‐tugas dan langkah‐langkah kerja
- Penilaian
Tampak jelas dari pengertian‐pengertian
di atas, bahwa LKS begitu penting dalam pembelajaran. LKS merupakan portofolio
siswa dan merupakan perangkat yang dapat digunakan di dalam kelas sebagai media
pembelajaran maupun di luar kelas sebagai eksplorasi dan review pemahaman. LKS merupakan
salah satu media agar siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri sesuai
paradigma konstruktivisme. LKS merupakan bagian penting dari model‐model
pembelajaran kooperatif (cooperative
learning) maupun
individual termasuk pembelajaran investigasi/inquiri. Singkatnya, LKS memegang
peran dalam meningkatkan peran aktif siswa (student centered). Karena itu, tidaklah mengherankan
bila di dunia internet begitu banyak situs yang menyediakan worksheet bagi guru maupun orang tua untuk
membina pengetahuan dan pemahaman siswa.
Dalam kerangka demikian, apakah benar
“LKS“ yang kini beredar sudah merupakan LKS yang sesungguhnya? Lebih dari itu,
apakah adil untuk memvonis LKS yang sekarang beredar sementara guru sendiri
tidak memberikan pemahaman yang cukup kepada siswa? Sesungguhnya peran gurulah
yang perlu dipertanyakan. Jadi, akan lebih tepat bila judul tulisan yang
diangkat Sdr.Muslih adalah “Bahaya dalam pemanfaatan LKS“. Selain itu, penggunaan
kata LKS tanpa mendeskrisikan lebih jauh mengenai LKS yang bagaimana, seakan‐akan
telah merendahkan peran penting LKS sebagai media dalam proses pembelajaran dan
belajar siswa.
Penulis artikel menyatakan, “...untuk
mengecek kemampuan siswa, guru tidak perlu menggunakan LKS buatan penerbit.
Lebih baik para guru memaksimalkan penggunaan buku ajar untuk pemahaman
siswanya“. Agaknya Sdr. Muslih lupa bahwa LKS adalah LKS, ia tidak sama dengan
buku teks atau buku panduan guru. Jadi, peran LKS sejauh yang
dimaksudkan untuk mereview pemahaman dan kemampuan, tidak dapat dibandingkan dengan
buku ajar atau proses pemahaman dalam kelas di bawah bimbingan langsung guru.
Bagaimana mungkin siswa mampu mengerjakan tugas dalam LKS, bila siswa sendiri
tidak mendapat pemahaman yang benar dari kelas? Lebih dari itu, apa salahnya
LKS buatan penerbit? Barangkali memang LKS tersebut dibuat dalam hal sebagai
latihan bagi siswa. Jika ternyata soal dalam LKS terlalu banyak atau kurang
sesuai dengan keinginan guru, maka peran gurulah yang harus memilih LKS atau
bagian LKS yang sesuai.
Selain itu, di samping menyampaikan teori perkembangan Piaget,
penulis artikel seyogyanya juga menyampaikan bahwa siswa SD berdasarkan perkembangan intelektualnya masih dalam tarap
operasional konkrit sehingga pemahaman terhadap konsep (yang notabene abstrak)
ditempuh melalui latihan prosedural (yang konkrit). Oleh karena itu, perlunya latihan
soal merupakan salah satu cara siswa mendapatkan pemahaman konsep yang benar dan
komprehensif.
Dari keseluruhan pembahasan dalam artikel, tampak bahwa apa yang
sesungguhnya digugat oleh Sdr.Muslih bukanlah LKS yang sesungguhnya, yang
menyediakan ruang bagi siswa untuk menulis. Buku LKS yang mungkin banyak
beredar dan dipergunakan oleh guru lebih merupakan “Buku Kumpulan Soal“. Inilah
mengapa kemudian Sdr.Muslih menyarankan adanya uji validitas dan reliabilitas
terhadap soal‐soal LKS. Tetapi, jelas tidaklah tepat bila kemudian buku semacam
ini lantas disebut atau mewakili LKS, walaupun menggunakan judul LKS pada
bagian kovernya. Jadi, sebaiknya Sdr.Muslih memilah‐milah terlebih dahulu mana
yang merupakan LKS dan mana yang bukan LKS tetapi bertopeng LKS.
Terlepas dari seluruh kritik di atas, apa yang telah dipaparkan
oleh Sdr.Muslih memberi nilai positif
bagi guru untuk merefeksi diri, apakah proses pembelajarannya sudah maksimal
atau belum. Terhadap LKS buatan penerbit, guru sudah selayaknya selektif dalam memanfaatkannya.
Tidak semua LKS buatan penerbit merupakan LKS yang layak. Oleh karena itu,
saran dari Sdr.Muslih berikut perlu untuk dilakukan guru, “Buatlah LKS sendiri yang
lebih membumi dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya. Tentu untuk jumlah
soal guru yang paling mampu memperkirakan ketuntasan belajar dari masing‐masing
bab. Tidak harus banyak yang penting tuntas pemahaman materinya.”
Simpulan
Akhirnya, tulisan Sdr.Muslih sebagai sebuah warning agar para guru perlu lebih selektif
dan berhati‐hati dalam memanfaatkan buku LKS buatan penerbit, patut untuk
diapresiasi. Namun demikian, tanpa membedakan “LKS yang sesungguhnya” dengan “LKS yang digugat” agaknya telah memberikan judgment yang kurang tepat.
Referensi
BSNP. 2008. Pengembangan Bahan Ajar. slide presentasi berbentuk powerpoint produksi BSNP dalam rangka
sosialisasi KTSP. Jakarta:
BSNP.
Van de Walle, Joh A.1990. Elementary School Mathematics: Teaching Developmentally. New York:
Longman
‐ . Collins Discovery Encyclopedia.
2005. Edisi 1. HarperCollins Publishers, dalam
http://encyclopedia.thefreedictionary.com/Worksheets
diakses 8 April 2010.
‐ . 2009. Dictionary of the English
Language. Edisi 4. Houghton Mifflin Company. dalam
http://dictionary.reference.com/cite.html?qh
=worksheet&ia=ahd4 diakses 8 April 2010.
Catatan Lampiran:
1.
Pada kajian kritis di atas diberi judul sendiri, tetapi hal ini
bukanlah merupakan suatu keharusan.
2.
Kajian Kritis di atas merupakan contoh yang dapat ditiru atau
menjadi perbandingan. Anda dapat membuat sebuah kajian kritis terhadap artikel
yang sama, dengan substansi yang mungkin
kurang atau lebih dari contoh di atas.
(Disadur dari Modul Suplemen Matematika Program BERMUTU
Tahun 2010 dengan judul “Kajian Kritis
dalam Pembelajaran Matematika di SD” oleh Sumardyono dan Ashari S, halaman 68-76,
diterbitkan oleh PPPPTK Matematika Yogyakarta)
![]() |
Guru-guru TIK sedang menyimak pemaparan dari salah satu Pemateri |
Selamat ber-MGMP-TIK selamat bersilaturahmi kebeberapa Sekolah di seluruh Majalengka; Kita sharing and growing together sambil berwisata MGMP.
BalasHapus