Rabu, 19 September 2012

Kajian Kritis

Disampaikan kembali oleh R. Agung   
(Kepala SMPN 2 Sukahaji Kabupaten Majalengka)
Salah Pembicara pada kegiatan MGMP-TIK Kab. Majalengka 
(Tampak) R. Agung, Pengurus MGMP-TIK Kab. Majalengka, dan Pengawas Dikmen

Kajian Kritis:
APA SALAHNYA LKS UNTUK SD?
(Suatu Kajian Kritis Terhadap Artikel Berjudul: Awas Bahaya LKS bagi Siswa SD!, Tulisan: Muh. Muslih)
Oleh: Sumardyono, M.Pd.


Pendahuluan
Tulisan yang berjudul Awas Bahaya LKS bagi Siswa SD! Dapat diakses di internet pada alamat http//bumisegoro.wordpress.com/2009/04/29/awas-bahaya-lks-bagisiswa-sd, diaksestanggal 8 April 2010).
Tulisan ini merupakan karya ilmiah populer yang ditulis oleh Muh Muslih yang juga pemilik blok (situs internet) seorang mahasiswa S2 UPI Bandung dan mengaku sebagai peneliti pada Maarif Center.

Tema yang diangkat Sdr. Muskih cukup relevan dan yang penting untuk dipapar dan dikaji saat ini. Hanya saja judul artikel menggunakan tanda baca seru (!)  seakan-akan merupakan masalah krusial dan darurat. Artikel Sdr. Muslih sepertinya ditujukan untuk semua kalangan yang memiliki perhatian terhadap pendidikan SD, khususnya  kepada orang tua dan guru SD. Walaupun demikian, melalui “Penerbitan” pada media internet maka setiap orang mendapat kesempatan untuk membaca dan menanggapi (langsung) terhadap artikel tersebut. Jelas dengan  pemilihan judul artikel, Sdr. Muslih bertujuan memberikan semacam Warning kepada para orang tua dan guru tentang kemanfaatan LKS di SD. Pembahasan dalam artikel telah menyuguhkan beberapa alasan berupa fakta, dugaan, dan argumentasi logis mengapa keberadaan LKS ini perlu diwaspadai. Menurut Sdr. Muslih, LKS saat ini hanya memberi beban yang berlebihan kepada siswa, sehingga bukannya menambah  pemahaman konsep tetapi malah dapat mematikan potensi siswa.
Sebagai pembahasan yang mengangkat isu penting dan relevan dengan perkembangan pendidikan, maka artikel ini memiliki arti penting dan perlu dibaca. Namun demikian, fakta, data, dan argumentasi yang disuguhkan belumlah cukup dan sesungguhnya dapat dipertajam sehingga dapat objektif. Selain itu pemilihan kurang selektif dan terdeskripsi dengan benar.
Rangkuman
Dalam memaparkan gagasannya, Sdr. Muslih mengorganisasi isi artikelnya ke dalam beberapa bagian, yaitu: Pendahuluan dalam bentuk narasi tanpa judul, Peran pekerjaan Rumah bagi Siswa, LKS bagi Anak SD, dan LKS SD Bisa Mematikan Potensi Anak. Pada bagian Pendahuluan, Sdr. Muslih menceritakan sebuah kisah nyata tentang banyaknya PR (Pekrjaan Rumah) pada LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dibebankan pada seorang siswa SD, dalam sebuah dialog antara sang anakdengan ayahnya. Pada subjudul peran pekerjaan rumah bagi siswa, penulis artikel menyuguhkan tujuan diadakannya PR yaitu untuk melatih dan mereview kemampuan secara mandiri di rumah. Tetapi, saat usia SD yang termasuk tahap operasional konkrit menurut Pieget, anak SD sebaiknya tidak diberikan PR yang terlalu banyak karena pengalaman mereka masih minim. Pada sub judul LKS anak SD, Sdr. Muslih mengemukakan mengapa LKS dipandang sangat berbahaya bagi perkembangan berpikir siswa dengan 3 alasan yaitu; bahwa LKS hanya melatih siswa menjawab soal sehingga tidak efektif tanpa pemahaman konsep, penggunaan LKS sebagai pengganti buku, dan mutu soal dalam LKS yang dianggap rendah.
Pada sun judul terakhir, LKS SD bisa mematikan potensi anak, penulis artikel menyatakan bahwa LKS perlu dibuat dengan kualitas standar dan digunakan secara tepat. Hal yang paling penting adalah pemahaman konsep secara utuh, sementara soal LKS sebaiknya proposional dengan kebutuhan siswa dan harusnya dibuat sendiri oleh guru.
Kritik
Deskripsi kisah “nyata” pada bagian pendahuluan seharusnya tidak perlu, apalagi dengan menggarisbawahi itu adalah sebuah kisah nyata. Bagaimana orang dapat diyakinkan bahwa itu sebuah kisah nyata? Akan lebih baik apabila penulis cukup memberi gambaran tentang deskripsi mengenai LKS yang saat ini beredar secara luas. Akan lebih baik lagi, bila didukung dengan data-data yang valid berdasarkan sampel, survey atau hasil penelitian. Pada sub judul peran pekerjaan rumah bagi siswa, penulis hanya mengulas sangat  singkat mengenai peran PR, sebagian besar paragraf lebih membahas mengenai “bahaya PR” dari sudut pandang teori  Pieget. Kelihatan bahwa Sdr. Sdr. Muslih begitu fokus pada penilaian terhadap  PR atau LKS tanpa memperhatikan sub tema yang akan dibahas. Seharusnya dengan sub judul  tersebut, Sdr. Muslih lebih mengulas mengenai apa peran PR sesungguhnya bagi siswa.  Selai itu perlu didefinisikan  apa yang dimaksud dengan PR. Pada sub judul LKS bagi anak SD, penulis artikel lebih banyak mengemukakan tenatng mengapa LKS berbahaya bagi siswa. Hampir semua paragraf membahas mengenai hal tersebut, sehingga sub judulnya adalah”Mengapa LKS Berbahaya bagi Siswa” atau “Mengapa LKS saat ini berbahaya bagi siswa”. Sekali  lagi, tampaknya Sdr. Muslih kurang peka dengan pemilihan sub judul.
Pada sub judul “LKS SD Bisa Mematikan Potensi Anak” lagi-lagi penulis tidak memberikan deskripsi yang jelas. LKS yang bagaimana yang mematikan anak, lalu  potensi yang mana? Penulis artikel menyatakan “Penulis tidak apriori akan keberadaan buku LKS, terutama bila memang memenuhi kualitas standar”. Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana kualitas standar yang dimaksud. Terkesan bahwa penulis artikel agak antipati terhadap keberadaan LKS terutama LKS yang diterbitkan.
Dalam keseluruhan tulisannya, penulis artikel terkesan tidak cermat dalam menggunakan istilah LKS dan PR. Seharusnya penulis artikel menyampaikan pengertian sesungguhnya dari LKS dan PR. Selanjutnya mengapa LKS yang sekarang banyak beredar berbahaya. Apakah kebanyakan “LKS” yang banyak beredar telah memenuhi standar dan apakah LKS telah dimanfaatkan dengan semestinya.
Van de Walle, John A. Dalam Elementry School Mathematics: Teaching Developmentally (1990, H.368) menegaskan bahwa “Secara tradisional PR (homework) dimaksudkan untuk menyediakan latihan dan pekerjaan tambahan pada prosedur yang telah dibelajarkan hari itu”. Selain peran tersebut,  PR juga merupakan cara efektif dalam mengkomunikasikan pentingnya pemahaman konsep kepada siswa dan orang tua siswa. Selain itu, PR berperan sebagai  cara guru untuk membangun percaya diri siswa dalam memahami konsep atau menyelesaikan masalah. (Van de Walle, 1990: 387). Inilah beberapa peran PR bagi siswa. Bagaimana dengan LKS? LKS yang merupakan singkatan Lembar Kerja Siswa atau Lembar Kegiatan Siswa merupakan lembaran atau kumpulan lembaran yang memuat tugas baik berupa pertanyaan konseptual meupun prosedural sekaligus bagian  kosong yang seharusnya diisi siswa dalam menjawab tugas atau masalah. Dalam tradisi berbahasa Inggris, LKS disebut dengan Studen Worksheet). LKS dapat dipergunakan baik di dalam kelas , maupun di luar kelas sebagai PR

Berikut ini beberapa pengertian LKS.

a sheet of paper containing exercises to be completed by a pupil or student” (lembaran kertas yang memuat latihan atau soal untuk dilengkapi penyelesaiannya oleh siswa) (Collins Discovery Encyclopedia)

A sheet of paper on which work records are kept” (lembaran kertas di mana rekaman pekerjaan disimpan) (Dictionary of the English Language)
“Lembar kegiatan siswa (student worksheet ) adalah lembaran‐lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kegiatan berisi petunjuk, langkah‐langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tugas‐tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa teori dan atau praktik“ (BSNP).

Masih menurut BSNP, Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut:
- Judul, mata pelajaran, semester, tempat
- Petunjuk belajar
- Kompetensi yang akan dicapai
- Indikator
- Informasi pendukung
- Tugas‐tugas dan langkah‐langkah kerja
- Penilaian

Tampak jelas dari pengertian‐pengertian di atas, bahwa LKS begitu penting dalam pembelajaran. LKS merupakan portofolio siswa dan merupakan perangkat yang dapat digunakan di dalam kelas sebagai media pembelajaran maupun di luar kelas sebagai eksplorasi dan review pemahaman. LKS merupakan salah satu media agar siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri sesuai paradigma konstruktivisme. LKS merupakan bagian penting dari model‐model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) maupun individual termasuk pembelajaran investigasi/inquiri. Singkatnya, LKS memegang peran dalam meningkatkan peran aktif siswa (student centered). Karena itu, tidaklah mengherankan bila di dunia internet begitu banyak situs yang menyediakan worksheet bagi guru maupun orang tua untuk membina pengetahuan dan pemahaman siswa.

Dalam kerangka demikian, apakah benar “LKS“ yang kini beredar sudah merupakan LKS yang sesungguhnya? Lebih dari itu, apakah adil untuk memvonis LKS yang sekarang beredar sementara guru sendiri tidak memberikan pemahaman yang cukup kepada siswa? Sesungguhnya peran gurulah yang perlu dipertanyakan. Jadi, akan lebih tepat bila judul tulisan yang diangkat Sdr.Muslih adalah “Bahaya dalam pemanfaatan LKS“. Selain itu, penggunaan kata LKS tanpa mendeskrisikan lebih jauh mengenai LKS yang bagaimana, seakan‐akan telah merendahkan peran penting LKS sebagai media dalam proses pembelajaran dan belajar siswa.

Penulis artikel menyatakan, “...untuk mengecek kemampuan siswa, guru tidak perlu menggunakan LKS buatan penerbit. Lebih baik para guru memaksimalkan penggunaan buku ajar untuk pemahaman siswanya“. Agaknya Sdr. Muslih lupa bahwa LKS adalah LKS, ia tidak sama dengan buku teks atau buku panduan guru. Jadi, peran LKS sejauh yang dimaksudkan untuk mereview pemahaman dan kemampuan, tidak dapat dibandingkan dengan buku ajar atau proses pemahaman dalam kelas di bawah bimbingan langsung guru. Bagaimana mungkin siswa mampu mengerjakan tugas dalam LKS, bila siswa sendiri tidak mendapat pemahaman yang benar dari kelas? Lebih dari itu, apa salahnya LKS buatan penerbit? Barangkali memang LKS tersebut dibuat dalam hal sebagai latihan bagi siswa. Jika ternyata soal dalam LKS terlalu banyak atau kurang sesuai dengan keinginan guru, maka peran gurulah yang harus memilih LKS atau bagian LKS yang sesuai.

Selain itu, di samping menyampaikan teori perkembangan Piaget, penulis artikel seyogyanya juga menyampaikan bahwa siswa SD berdasarkan  perkembangan intelektualnya masih dalam tarap operasional konkrit sehingga pemahaman terhadap konsep (yang notabene abstrak) ditempuh melalui latihan prosedural (yang konkrit). Oleh karena itu, perlunya latihan soal merupakan salah satu cara siswa mendapatkan pemahaman konsep yang benar dan komprehensif.

Dari keseluruhan pembahasan dalam artikel, tampak bahwa apa yang sesungguhnya digugat oleh Sdr.Muslih bukanlah LKS yang sesungguhnya, yang menyediakan ruang bagi siswa untuk menulis. Buku LKS yang mungkin banyak beredar dan dipergunakan oleh guru lebih merupakan “Buku Kumpulan Soal“. Inilah mengapa kemudian Sdr.Muslih menyarankan adanya uji validitas dan reliabilitas terhadap soal‐soal LKS. Tetapi, jelas tidaklah tepat bila kemudian buku semacam ini lantas disebut atau mewakili LKS, walaupun menggunakan judul LKS pada bagian kovernya. Jadi, sebaiknya Sdr.Muslih memilah‐milah terlebih dahulu mana yang merupakan LKS dan mana yang bukan LKS tetapi bertopeng LKS.

Terlepas dari seluruh kritik di atas, apa yang telah dipaparkan oleh  Sdr.Muslih memberi nilai positif bagi guru untuk merefeksi diri, apakah proses pembelajarannya sudah maksimal atau belum. Terhadap LKS buatan penerbit, guru sudah selayaknya selektif dalam memanfaatkannya. Tidak semua LKS buatan penerbit merupakan LKS yang layak. Oleh karena itu, saran dari Sdr.Muslih berikut perlu untuk dilakukan guru, “Buatlah LKS sendiri yang lebih membumi dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya. Tentu untuk jumlah soal guru yang paling mampu memperkirakan ketuntasan belajar dari masing‐masing bab. Tidak harus banyak yang penting tuntas pemahaman materinya.”

Simpulan
Akhirnya, tulisan Sdr.Muslih sebagai sebuah warning agar para guru perlu lebih selektif dan berhati‐hati dalam memanfaatkan buku LKS buatan penerbit, patut untuk diapresiasi. Namun demikian, tanpa membedakan “LKS yang sesungguhnya” dengan “LKS yang digugat” agaknya telah  memberikan judgment yang kurang tepat.

Referensi
BSNP. 2008. Pengembangan Bahan Ajar. slide presentasi berbentuk powerpoint produksi BSNP dalam rangka sosialisasi KTSP. Jakarta: BSNP.

Van de Walle, Joh A.1990. Elementary School Mathematics: Teaching Developmentally. New York: Longman

‐ . Collins Discovery Encyclopedia. 2005. Edisi 1. HarperCollins Publishers, dalam
http://encyclopedia.thefreedictionary.com/Worksheets diakses 8 April 2010.
‐ . 2009. Dictionary of the English Language. Edisi 4. Houghton Mifflin Company. dalam
http://dictionary.reference.com/cite.html?qh =worksheet&ia=ahd4 diakses 8 April 2010.

Catatan Lampiran:
1.    Pada kajian kritis di atas diberi judul sendiri, tetapi hal ini bukanlah merupakan suatu keharusan.
2.    Kajian Kritis di atas merupakan contoh yang dapat ditiru atau menjadi perbandingan. Anda dapat membuat sebuah kajian kritis terhadap artikel yang  sama, dengan substansi yang mungkin kurang atau lebih dari contoh di atas.

(Disadur dari Modul Suplemen Matematika Program BERMUTU Tahun 2010 dengan judul  “Kajian Kritis dalam Pembelajaran Matematika di SD” oleh Sumardyono dan Ashari S, halaman 68-76, diterbitkan oleh PPPPTK Matematika Yogyakarta)
Guru-guru TIK sedang menyimak pemaparan dari salah satu Pemateri



















1 komentar:

  1. Selamat ber-MGMP-TIK selamat bersilaturahmi kebeberapa Sekolah di seluruh Majalengka; Kita sharing and growing together sambil berwisata MGMP.

    BalasHapus