Total Tayangan Laman

Sabtu, 01 Maret 2014

“GOLDEN AGE” TAK KAN PERNAH KEMBALI



OPINI
Oleh: NITA APRIYANI, S.Kom.
Guru TIK SMPN 2 Sumberjaya
If I had my child to raise over again
If I had my child to raise all over again,
I’d finger paint more,and paint the finger less.
I’d do less correcting, and more connecting.
I’d take my eyes off my watch, and watch with my eyes.
I would care to know less, and know to care more
I’d take more hikes, and fly more kites
I’d stop playing serious, and seriously play
I’d run through more fields, and gaze at more stars
I’d more hugging and less tugging
I would be firm less often, and the house later
I’d build self-esteem first, and the house later
I’d teach less about the love of power, and more about the power of love.
(Diane Loomans, “Full Esteem Ahead”)

D
emikian istimewa dan berharganya masa kanak-kanak terlihat dalam puisi Diane Loomans diatas. Ia berandai-andai mengulang lagi masa-masa membesarkan anaknya. Tampaknya ia menyesal telah mengasuh anaknya secara keliru. Namun sayang sang waktu tak bisa diulang. Pengandaiannya hanya sekadar angan-angan dan mustahil terjadi. Tentu kita sebagai ibu atau calon ibu tidak menginginkan kejadian serupa pada diri kita juga, bukan?
Golden Age, Tahun-Tahun Menentukan
Upaya menangani anak, membentuk kualitasnya demi perbaikan generasi sebuah bangsa secara optimal harus dimulai dari usia dini. Usia dini merupakan masa keemasan (golden age) bagi anak untuk memperoleh proses pendidikan. Pada masa ini, anak memiliki potensi fitrah, bisa diarahkan menjadi apa saja terserah kepada kedua orang tuanya. Pentingnya pendidikan berkualitas untuk anak usia dini dibuktikan pula dengan adanya penelitian-penelitian tentang perkembangan kemampuan anak usia dini yang menakjubkan.
Para peneliti membuktikan bahwa 50 % kemampuan belajar manusia ditentukan dalam empat tahun pertama pertumbuhannya. Sedangkan 30% lainnya dibentuk sebelum usia 8 tahun. Tony Buzan, ahli psikologi dari Inggris, mengatakan bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan benar-benar brilian. Kemampuan daya serap bahasa seorang anak bahkan jauh lebih baik daripada seorang doktor di bidang apapun.
Pada 1964, Benjamin S. Bloom, professor pendidikan di Universitas Chicago, menerbitkan hasil temuan risetnya. Dia menemukan bahwa pertumbuhan anak mengalami peningkatan pesat dalam tahun-tahun pertama dan kemudian mengalami perlambatan. Umumnya pertumbuhan mencapai separuh kapasitasnya sebelum ulang tahun kelima. Dia menemukan bahwa anak laki-laki meraih 54 % kemampuan pada ulang tahun ketiga, 32 % lagi antara usia 3 dan 12 tahun. 14 % terakhir terjadi pada ulang tahun ke 18. Dia juga menyimpulkan bahwa pada anak laki-laki dan perempuan, sekitar 50% kecerdasan terbentuk pada masa antara pembuahan hingga usia 4 tahun. Sekitar 30 % berkembang antara usia 4 hingga 8 tahun. 20 % terakhir berkembang antara rentang usia 8 hingga 17 tahun.
Bloom juga menganalisa bahwa kosa kata, pemahaman membaca dan prestasi sekolah secara umum dalam rentang masa antara kelahiran hingga usia 18 tahun mengalami perkembangan yang luar biasa. Ini membuat Bloom yakin bahwa kemampuan akademik seorang anak pada usia 18 tahun, 33 % diantaranya telah terbentuk pada usia 5 tahun. 42 persen terbentuk antara usia 6 dan 13 tahun, 25 % terbentuk antara usia 13 hingga 18 tahun. Subhanallah.
Survei yang lain menguji perkembangan 1.206 bayi yang lahir di Christchurch pada 1977. Salah satu temuan utamanya adalah sebanyak 15 hingga 20 % anak-anak sangat tertinggal pertumbuhannya karena tidak mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pengamatan pertumbuhan sejak dini.
Dr. Phil Silvia, seorang analis mengatakan bahwa survei yang dia lakukan di South Island, Selandia Baru menunjukkan bahwa betapa pentingnya tahun-tahun pertama perkembangan anak. Itu tidak berarti bahwa tahun-tahun yang lain tidak penting, tetapi riset Dr. Phil Silvia menunjukkan bahwa anak-anak yang pertumbuhannya agak lambat pada tiga tahun pertama cenderung mengalami masalah pada masa kanak-kanak dan remaja.
Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Untuk itu rangsangan-rangsangan dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.
Iman Sebagai Ilmu Pertama
 Kesadaran akan pentingnya memanfaatkan dan memaksimalkan golden age telah dimiliki oleh banyak ibu. Kesadaran ini pula yang membuat berbagai lembaga pendidikan pra sekolah laris manis diserbu para orang tua yang peduli dengan masa depan anaknya. Lihatlah, berbagai lembaga pendidikaan pra sekolah dari berbagai tingkatan umur banyak bermunculan di berbagai tempat. Mulai dari taman penitipan anak usia 1 tahun, nursery untuk anak dibawah usia 5 tahun atau taman kanak-kanak untuk anak usia 5-6 tahun.
Lembaga pendidikan pra sekolah ini semakin laris seiring dengan pergeseran peran orang tua yang terjadi di masyarakat. Ibu yang bekerja diluar rumah memanfaatkan fasilitas ini untuk membantu tugas mereka mendidik anak-anaknya. Kebutuhan akan pendidikan pra sekolah semakin mengerucut saat berkembang pemikiran bahwa pendidikan akan berbuah maksimal jika ditangani oleh pihak yang berkompeten. Yaitu para guru yang memang belajar untuk mengajar dan mendidik anak-anak. Sehingga dalam perkembangannya, pendidikan pra sekolah ini dianggap sebagai bagian dari pendidikan formal. Bahkan kurikulumnyapun disusun sedemikian rupa sehingga berkesinambungan dan menunjang ke jenjang berikutnya.
Oleh karenanya dengan mudah dapat kita temui lembaga pendidikan pra sekolah yang telah mengajarkan bahasa Inggris atau bahasa asing lain, berhitung dengan cepat, metode menghafal secara instan dan segala rupa keterampilan lainnya. Jam terbang anak-anak pun banyak diisi dengan kegiatan les pelajaran, kursus pengelolaan bakat dan semisalnya. Keinginan orang tua untuk mengoptimalkan golden age anak-anak tanpa tersadar justru membuat mereka tereksploitasi dan terampas hak-haknya sebagai anak. Padahal, setiap anak memiliki fase perkembangan yang berubah-ubah seiring dengan perkembangan usianya.
Demikian halnya untuk menentukkan kadar ilmu pendidikan yang harus diserap dan dipelajari oleh anak. Proses pendidikan yang tidak memperhatikan perkembangan akal, jasmani dan psikologis anak justru akan membahayakan perkembangan anak itu sendiri. Al Abdary dalam kitab Madkhalusi asy-Syar’I asy Syarif mengkritik para orang tua dan wali yang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah pada usia kurang dari 7 tahun. Ia mengatakan “Dahulu para leluhur kita yang alim mengirimkan putera-puteranya ke Kuttab (Majelis Ilmu) tatkala mereka mencapai usia 7 tahun. Sejak usia tersebut orang tua diharuskan mendidik anak-anaknya mengenal shalat dan akhlak mulia. Akan tetapi saat ini amat disesalkan bahwa anak-anak zaman sekarang menuntut ilmu pada usia yang masih rawan (3-5tahun). Para pengajar hendaknya hati-hati saat mengajar membaca pada anak-anak usia rawan ini, karena dapat melemahkan tubuh dan akal pikirannya”.
Semestinya, sesuai dengan fase perkembangannya, aspek-aspek yang perlu dikembangkan pada fase pendidikan pra sekolah adalah aspek intelektual, emosional,  jasmani, pergerakan motorik, estetik serta aspek spiritual dan moral. Berdasarkan aspek-aspek tersebut model pembelajaran yang tepat adalah bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Pendidikan pra sekolah diselenggarakan sebagai sarana untuk mengembangkan kesehatan fisik anak. Maka sebaiknya dilembaga ini anak-anak diberi banyak kesempatan untuk menggerakkan badannya, seperti berlari, melompat, berenang, dsb. Demikian halnya untuk kebutuhan emosinya. Pendidikan pra sekolah harus mampu menjadi tempat yang aman, tentram, tidak menakutkan dan menjadi sumber semangat bagi mereka. Suasana seperti ini dibutuhkan untuk menumbuhkan gairah belajar mereka.
Demikian halnya dengan bobot materi yang diajarkan pada tingkatan ini. Anak-anak usia dini belum memiliki kemampuan untuk memahami konsepsi dan persepsi sehingga mereka tidak mampu menerjemahkan pengetahuan yang dimilikinya kedalam aktifitas nyata. Mereka baru mampu memikirkan hal-hal yang bisa tertangkap inderanya. Sehingga pendidikan yang bisa kita berikan kepada mereka masih seputar hal-hal yang dapat dikerjakan dan diindera. Seperti membiasakan mereka untuk berakhlak mulia, bertutur kata yang sopan,membangun kerjasama dengan teman, mengenal Tuhan dengan mengamati hal-hal disekitarnya,memupuk ketaatan dengan menjalankan ibadah dsb. Usia dini merupakan tahapan yang tepat untuk mengenalkan hakikat Tuhan dan nilai-nilai kebenaran.
Dengan demikian, usaha kita mengenalkan semua ilmu kepada mereka secra dini sesungguhnya telah melampaui kapasitas dan daya kemampuan anak-anak. Sekalipun pada akhirnya mereka mengetahui atau hafal dengan ilmu yang kita ajarkan, namun belum tentu mereka mampu memahami ilmu yang dia miliki.
Keluarga, Pendidik Pertama Anak
Tidak ada perdebatan bahwa golden age harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para orang tua untuk menanamkan pendidikan. Hanya saja diperlukan pemahaman tentang apa dan bagaimana masa golden age dapat dioptimalkan. Bagi seorang muslim, pedoman untuk memanfaatkan golden age anak tidak perlu dirisaukan karena Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu. Selain itu, pada diri dan kehidupan Rasulullah SAW telah ada contoh yang paling tepat dalam pendidikan. Jadi sunnah dan hadist menjadi pedoman mendidik anak berdasarkan Al-Qur’an, tentu penerapannya sesuai dengan perkembangan zaman.
Idealnya, pada masa golden age orang tua dan keluarganyalah yang harus menjadi sekolah bagi anak-anaknya. Kedua orang tua yang seharusnya merencanakan dan menyepakati pendidikan apa saja yang harus diberikan kepada anak pada masa ini, sehingga keluarganyalah yang semestinya menjadi tempat paling tepat sebagai institusi pelaksananya.
Karena ibu adalah sosok yang sangat dekat dan yang pertama kali berinteraksi dengan anak, bahkan sejak anak dalam kandungan ibu sudah mulai mempengaruhi fisik dan mentalnya dan ketika anak lahir dan ibu pula yang menggoreskan warna dalam lembar-lembar putihnya untuk pertama kali, maka semestinya ibu juga yang paling tepat untuk melaksanakan tugas pendidikan pada masa emas ini. Sedangkan suami akan lebih berperan sebagai partner yang handal dalam melakukan evaluasi.
Sesungguhnya anak bagaikan ‘radar’ yang dapat menangkap setiap obyek yang ada disekitarnya. Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak. Apabila seorang ibu memiliki kepribadian yang agung dan tingkat ketaqwaan yang tinggi maka kesan pertama yang masuk kedalam benak anak adalah kesan yang baik. Kesan awal yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah ideal yang diinginkan.
Di samping itu, anak juga membutuhkan figur contoh (qudwah) dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berfikir. Ia belum mampu menerjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Kekuatan figur ibu juga akan membuat anak mampu untuk menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya. Karena anak akan menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai. Figur ibu seperti ini dapat kita temui pada diri Asma’ binti Abu Bakar. Figur Asma sangat kuat mempengaruhi jiwa anaknya Abdullah bin Zubair. Para pakar ilmu pendidikan mengajarkan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Dalam hal ini ibulah yang paling tepat untuk berperan sebagai contoh pertama bagi anak.
Bila kita meyakini bahwa golden age adalah masa paling berharga bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, maka selayaknyalah suami dan istri akan bersama-sama memanfatkan waktu ini dengan mengoptimalkan segala kemampuan dan keterbatasan yang ada. Rasulullah SAW telah memberi petunjuk kewajiban orang tua dalam mendidik anak, termasuk pada masa emas. Maka, salah satu upaya orang tua adalah dengan ikhlas untuk mencurahkan pikiran, dana dan waktu untuk melakukan yang terbaik. Kitalah yang paling paham apakah upaya kita telah maksimal. Dan upaya inilah yang akan menjadi bentuk tanggung jawab kita sebagai pemegang amanah Allah.

*BIODATA PENULIS
Nama                          : NITA APRIYANI, S.Kom
Tanggal Lahir              : 20 APRIL 1984
Unit Kerja                    : SMP NEGERI 2 SUMBERJAYA
NIP                              : 19840420 200901 2 005
No Hp                          : 085724722333

Tidak ada komentar:

Posting Komentar